Di tengah-tengah pelajaran kitab Syarah Aqidah Ath Thahawiyyah karya Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi, guru kami Abu Abdirrahman Fahd Al Adeni berkisah…

Dahulu, beberapa orang thalibul ‘ilm murid Syaikh Muqbil diutus untuk berdakwah ke sebuah desa yang mayoritas penduduknya berpemahaman Syi’ah Zaidiyyah. Salah seorang dari mereka kemudian memberikan khutbah Jum’at di masjid desa tersebut. Selesai shalat Jum’at, orang-orang pun riuh membicarakan khutbah yang dibawakan oleh si thalib. Sampai datang seorang tua kepada si thalib lalu mencelanya,

“Kamu berkhutbah tidak membaca shalawat dan salam atas ahli bait, keluarga nabi!”

Lalu dengan tenang si penuntut ilmu menjawab, “Bahkan aku telah mengulang-ulangnya. Apakah engkau tidak memperhatikannya?”

Bapak tua itu terdiam bingung. Mungkin dia bimbang, kapan si khatib membaca shalawat kepada ahlul bait nabi. Jangan-jangan pas khutbah tadi dia yang ngantuk.

Sebenarnya yang diinginkan oleh bapak tua yang Zaidi tadi adalah membaca shalawat khusus kepada ahli bait Nabi di mukaddimah dan juga di penutup khutbah sebagaimana yang menjadi kebiasaan orang-orang Zaidiyah. Tapi bukankah di dalam khutbah, si penuntut ilmu sudah bershalawat kepada keluarga nabi setiap kali membacakan hadits?

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam mengatakan demikian dan demikian… Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda demikian dan demikian…”

Apa arti ucapan shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam? Bukankah itu maknanya semoga shalawat dan salam tercurah pada Rasulullah dan keluarga beliau?

Kemudian bapak tua tersebut berkata lagi, nampaknya dia tetap mencoba mencari-cari kesalahan si penuntut ilmu, “Kamu tadi mengimami baca alfatihah tanpa membaca bismillah!”

Kembali si penuntut ilmu menjawab dengan tenang, “Bahkan aku telah membacanya, tapi aku membacanya dengan sirr (dipelankan) tidak dengan jahr (dikeraskan) sebagaimana hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, di mana beliau berkata,

صَلَيْتُ خَلْفَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَكَانُوْا يَسْتَفْتِحُوْنَ بِالْحَمْدُ ِللهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ لاَ يَذْكُرُوْنَ بِسْمِ الله الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فِيْ أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلاَ فِيْ آخِرِهَا

‘Aku shalat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di belakang Abu Bakar, Umar, serta Utsman. Dulu mereka membuka shalat dengan ‘alhamdulillahi rabbil ‘alamin’ dan mereka tidaklah mengucapkan bismillahirrahmanirrahim di awal bacaan mereka, tidak pula di akhirnya.’ (HR. Muslim)

Bapak tua tersebut masih ngotot memaksa, “Tapi madzhabnya Imam Zaid mengatakan wajib baca basmalah, shalat itu tidak sah kalau tidak baca basmalah!”

Lalu datang muadzin masjid membela sang penuntut ilmu. Dia berkata kepada orang tua tersebut, “Wahai syaikh, engkau tidak bisa memaksa orang untuk mengikuti mazhabmu. Bukankah dia punya dalil Hadits Anas tadi?”

Akhirnya terjadilah perdebatan sengit antara sang muadzin dan bapak tua itu. Orang-orang pun berkumpul di sekitar mereka menambah riuk-pikuk perdebatan tadi. Sang penuntut ilmu kemudian keluar dari masjid untuk menjauhi keributan.

Di luar masjid, dia ditemui seorang bapak tua yang lain. Bapak tua ini menyalaminya, kemudian bertanya kepada si penuntut ilmu, “Wahai anak muda, kenapa engkau tidak tanazzul saja, mengikuti tata cara peribadahan mereka, agar kemudian mereka mendengarkan dan menerima dakwahmu?”

Si penuntut ilmu menjawab, “Wahai paman, bukankah Rasulullah pernah bersabda,

مَنْ أَرْضَى اللهَ بِسَخَطِ النَّاسِ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسُ، وَمَنْ أَرْضَى النَّاسُ بِسَخَطِ اللهِ، عَادَ حَامِدَهُ مِنَ النَّاسِ لَهُ ذَاما

“Barangsiapa yang mengharap ridha Allah walaupun manusia murka kepadanya, maka Allah akan ridha kepadanya dan demikian juga manusia akan ridha kepadanya. Barangsiapa yang mengharap keridhaan manusia walaupun dengan kemurkaan Allah, maka orang yang dahulu memujinya akan berbalik mencelanya” (Shahih, dishahihkan oleh Al Albani. Lihat Syarh Aqidah Ath Thahawiyyah hal 268, terbitan Darus Salam)

Bapak tua itu kemudian berkata kepada kepadanya, “Benar, benar.. Sungguh benar ucapanmu.”

Si penuntut ilmu kemudian pergi. Ketika dia shalat ashar di masjid yang lain, ada beberapa orang dari desa tersebut mendatangi dia sambil membawa senapan. Senapan itu lalu diletakkan di hadapan si penuntut ilmu. Salah seorang dari mereka lalu berkata kepada si penuntut ilmu,

“Wahai syaikh… (ini merupakan panggilan kehormatan bagi si penuntut ilmu, karena sebenarnya dia masih muda dan belumlah pantas dipanggil syaikh).. Wahai syaikh, sesungguhnya kabilah kami merasa sangat malu dengan apa yang terjadi tadi setelah shalat Jum’at. Kami seharusnya menghormati dirimu sebagai tamu di desa kami, tapi kami telah memperlakukanmu dengan kurang terhormat.

Dan orang tua yang tadi siang mencelamu sungguh dia adalah orang yang paling buruk di antara kami. Kami tidaklah pernah melihat dia shalat Jum’at melainkan hari ini, ketika dia mendengar bahwa dirimu yang akan memberikan khutbah. Oleh karena itu, ini senjata wahai syaikh kami berikan kepadamu. Terserah engkau apa hukuman yang pantas bagi kami, karena sesungguhnya ini adalah aib yang besar bagi kami. Kami sungguh merasa malu.”

Dengan bijak si penuntut ilmu berkata, “Tidak ada sesuatu di antara kita. Apa yang sudah terjadi biarkanlah terjadi. Hanya saja biarkan saya dan teman-teman mengajarkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di tengah-tengah kalian.”

Akhirnya para utusan kabilah tersebut menyetujui keinginan si penuntut ilmu. Mereka pun mulai mengajarkan penduduk Islam yang benar, yang sesuai dengan sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang dipahami oleh salafus shalih, generasi awal Islam.

Bahkan pada malam itu juga, di masjid yang sama -karena pada waktu itu Ramadhan- ditegakkan shalat tarawih untuk yang pertama kali sejak masjid itu dibangun, karena sebelumnya mazhab Syiah Zaidiyah tidaklah menganggap shalat tarawih berjama’ah itu sebagai sesuatu yang disyariatkan.

Maka sejak itu, berubahlah desa tersebut dari desa Syi’ah Zaidi menjadi desa ahlussunnah. Walillahil hamd.

Sungguh telah benar Nabi shallallahu ‘alaihi wa’ala alihi wasallam dengan sabda beliau,

“Barangsiapa yang mengharap ridha Allah walaupun manusia murka kepadanya, maka Allah akan ridha kepadanya dan demikian juga manusia akan ridha kepadanya…”

Wallahu ta’ala a’lam bisshawab.
Ditulis di tepi Laut Arab, Madinatus Syihir -Propinsi Hadramaut Yaman pada hari Rabu tanggal 7 Sya’ban 1433 H – 27 Juni 2012
via ustadz Abu Umar Wira Bachrun Al Bankawy, 28 Juni 2012

By nighthood, 3 Oktober 2011.

Tanda-tanda Ajal Semakin Dekat
by N**** ********* on Saturday, 01 October 2011 at 01:39

Tanda-tanda kematian mengikut ulamak adalah benar dan wujud cuma amalan dan ketakwaan kita sahaja yang akan dapat membezakan kepekaan kita kepada tanda-tanda ini. Rasulullah SAW diriwayatkan masih mampu memperlihat dan menceritakan kepada keluarga dan sahabat secara lansung akan kesukaran menghadapi sakaratul maut dari awal hinggalah akhirnya hayat Baginda.Imam Ghazali rahimahullah diriwayatkan memperolehi tanda-tanda ini sehinggakan beliau mampu menyediakan dirinya untuk menghadapi sakaratul maut secara sendirian. Beliau menyediakan dirinya dengan segala persiapan termasuk mandinya, wuduknya serta kafannya sekali, cuma ketika sampai bahagian tubuh dan kepala sahaja beliau telah memanggil abangnya, iaitu Imam Ahmad Ibnu Hambal untuk menyambung tugas tersebut.Beliau wafat ketika Imam Ahmad bersedia untuk mengkafankan bahagian mukanya. Adapun riwayat-riwayat ini memperlihatkan kepada kita sesungguhnya Allah SWT tidak pernah berlaku zalim kepada hambanya. Tanda-tanda yang diberikan adalah untuk menjadikan kita umat Islam supaya dapat bertaubat dan bersedia dalam perjalanan menghadap Allah SWT.Walaubagaimanapun semua tanda-tanda ini akan berlaku kepada orang-orang Islam sahaja manakala orang-orang kafir iaitu orang yang menyekutukan Allah nyawa mereka ini akan terus di rentap tanpa sebarang peringatan sesuai dengan kekufuran mereka kepada Allah SWT. Adapun tanda-tanda ini terbahagi kepada beberapa keadaan :

Tanda 100 hari sebelum hari mati.
Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada hambanya dan hanya akan disedari oleh mereka yang dikehendakinya. Walaubagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini cuma samada mereka sedar atau tidak sahaja. Tanda ini akan berlaku lazimnya selepas waktu Asar. Seluruh tubuh iaitu dari hujung rambut sehingga ke hujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan mengigil. Contohnya seperti daging lembu yang baru saja disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya lazat dan bagi mereka yang sedar dan berdetik di hati bahawa mungkin ini adalah tanda mati maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sedar akan kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesedaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian , tanda ini akan lenyap begitu sahaja tanpa sebarang manfaat. Bagi yang sedar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan masa yang tinggal untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

Tanda 40 hari sebelum hari mati
Tanda ini juga akan berlaku sesudah waktu Asar. Bahagian pusat kita akan berdenyut-denyut. Pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pokok yang letaknya di atas Arash Allah SWT. Maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mula membuat persediaannya ke atas kita, antaranya ialah ia akan mula mengikuti kita sepanjang masa. Akan terjadi malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas lalu dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika. Adapun malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya.

Tanda 7 hari
Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah kesakitan di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba-tiba ianya berselera untuk makan.

Tanda 3 hari
Pada ketika ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita iaitu diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini dapat dikesan maka berpuasalah kita selepas itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti. Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat dikesan jika kita melihatnya dari bahagian sisi. Telinganya akan layu dimana bahagian hujungnya akan beransur-ansur masuk ke dalam. Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.

Tanda 1 hari
Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang iaitu di kawasan ubun-ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.

Tanda akhir
Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan sejuk di bahagian pusat dan ianya akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimah syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikatmaut untuk menjemput kita kembali kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.Sesungguhnya marilah kita bertaqwa dan berdoa kepada Allah SWT semuga kita adalah di antara orang-orang yang yang dipilih oleh Allah yang akan diberi kesedaran untuk peka terhadap tanda-tanda mati ini semoga kita dapat membuat persiapan terakhir dalam usaha memohon keampunan samada dari Allah SWT mahupun dari manusia sendiri dari segala dosa dan urusan hutang piutang kita. Walau bagaimanapun sesuai dengan sifat Allah SWT yang maha berkuasa lagi pemurah lagi maha mengasihani maka diriwatkan bahawa tarikh mati seseorang manusia itu masih boleh diubah dengan amalan doa iaitu samada doa dari kita sendiri ataupun doa dari orang lain. Namun ianya adalah ketentuan Allah SWT semata-mata. Oleh itu marilah kita bersama-sama berusaha dan berdoa semuga kita diberi hidayah dan petunjuk oleh Allah SWT serta kelapangan masa dan kesihatan tubuh badan dan juga fikiran dalam usaha kita untuk mencari keredhaan Allah SWT samada di dunia mahupun akhirat. Wallahualam.Apa yang baik dan benar itu datangnya dari Allah SWT dan apa yang salah dan silap itu adalah dari kelemahan saya sendiri.
Thanks to A*** ***

Pendahuluan

Assalamualaikum sahabatku, saudara N. Aku sebenarnya agak berdukacita berkenaan artikel yang saudara post di wall laman Facebook, tajuknya “Tanda – Tanda Ajal semakin Dekat”. Saudara N yang aku kenal suatu masa dahulu adalah seorang yang dapat menerima teguran, seorang yang aku boleh berkongsi hampir segalanya, jadi aku berharap semoga orang yang kukenal ini belum berubah. Santailah, semua orang pernah melakukan kesilapan. Artikel teguran ini ditujukan kepada aku sendiri dan kepada saudara bila berkenan. Jadi silalah dibaca dalam keadaan santai tapi serius.

Aku cuba mengerti yang saudara mungkin sibuk, jadi summary atau akar kepada yang semua permasalahan ini adalah, jika hendak menghubungkan apapun berkaitan agama, Islam khususnya, diharapkan dapatlah cek betul-betul dulu kebenaran suatu benda itu, dari mana asalnya. Atau untuk lebih jelas dalam isu yang cuba kita ketengahkan ini, pendek kata aku sangatlah ragu dengan kesahihan artikel “Tanda – Tanda Ajal semakin Dekat” itu.

Aku bagikan isu ini kepada 4 bab:

  • Membela Islam, tanggungjawab dan disiplin.
  • Kritikan mengenai tanda ajal semakin dekat.
  • Jadilah Ulul Albab.
  • Ahli sunnah dalam mengkritik.

I. Membela Islam, Tanggungjawab dan Disiplin

Cuba kita bayangkan satu skenario untuk mudah difahami. Contohnya, pada suatu hari saudara sakit perut yang teruk. Kebetulan pada waktu itu semua doktor sibuk, tak dapat melayani saudara. Apakah saudara memilih untuk cek penyakit saudara apa dalam blog orang biasa (yang saudara tidak tahu hujung pangkalnya i.e. tanya tok Google) atau saudara cari laman web ilmiah yang betul-betul disahkan oleh World Health Organization (sebagai contoh)? Sudah pasti saudara ambil dari yang sudah disahkan, sebab ini melibatkan hidup dan mati manusia, betul tak? Hal yang sama juga patut kita amalkan pada perkara-perkara yang melibatkan agama. Malah aku katakan urusan agama lebih penting lagi, kerana masalah kesihatan hanya berkaitan hidup atau mati, tapi agama melibatkan syurga atau neraka, urusan setelah mati yang lebih panjang.

Di sini aku cuba ketengahkan beberapa bukti dari al-Quran dan hadis sahih:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan–perbuatan yang keji, sama ada yang nyata atau yang tersembunyi, perbuatan dosa dan menceroboh tanpa alasan yang benar. (Diharamkan) kamu mempersekutukan sesuatu dengan Allah sedang Allah tidak menurunkan sebarang bukti (yang membenarkannya) dan (diharamkan) kamu memperkatakan terhadap Allah sesuatu yang kamu tidak ketahui” (Surah al A’raf: ayat 33).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya berdusta ke atasku (menggunakan namaku) bukanlah seperti berdusta ke atas orang lain (menggunakan nama orang lain). Sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, maka siaplah tempat duduknya dalam neraka” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Ini pula mengenai israiliyat, take note ayat-ayat yang aku boldkan:

“Cerita dan sebutan al-Quran mengenai umat terdahulu, kisah-kisah dan berita mengenai mereka bukan dengan cara pendetilan huraian. Al-Quran tidak mendetilkan tentang masa, atau tempat, atau watak, atau memperincikan cerita. Tidak diceritakan setiap kejadian, atau episodnya, atau bahagian-bahagiannya. Ia tidak pula melengkapkan (setiap episod), mendetil, menghuraikan dengan panjang lebar peristiwa-peristiwa yang berlaku, setiap pergerakan watak-wataknya dan latarbelakang peristiwa. Al-Quran tidak melakukan ini semua. Ini kerana bukan tujuan al-Quran untuk mendetilkan kisah-kisah tersebut. Sebaliknya tujuan al-Quran untuk membentangkan kebenaran dan menentukan nilaian dan pemikiran, mengambil pengiktibaran, pengajaran dan panduan. Juga mengambil manfaat dari panduan-panduan yang terdapat dalam kisah-kisah tersebut. Ini semua terlaksana dengan kadar dan cara yang telah dibentangkan oleh al-Quran.

Para pembaca dan pengkaji al-Quran yang mengambil riwayat Israiliyyat dan cerita-cerita dongeng sepatutnya berpegang dengan tujuan al-Quran bagi kisah-kisah umat yang lalu. Mereka sepatutnya mengambil faedah dari method al-Quran dalam melihat dan menghuraikan kisah-kisah tersebut. Mereka sepatutnya menumpukan kepada inti panduan dan pengajaran. Mereka tidak sepatutnya mengambil sumber-sumber yang berasal dari manusia yang bersifat lemah dan jahil. Lalu mereka mencari pendetilan apa yang diterangkan al-Quran secara umum, cuba menjelaskan apa yang al-Quran samarkan dan menceritakan apa yang al-Quran diamkan. Alangkah baiknya jika mereka ini dapat mencari dari sumber yang dipercayai. Barangkali boleh memberikan mereka ilmu yang dipercayai dalam hal ini. Malangnya mereka mencari dari sumber yang yang diselewengkan, dusta (Israiliyyat) dan mengambil dari manusia kafir lagi zalim yang menyelewengkan agama mereka (Yahudi)..”. (Al-Khalidi, Salah ‘Abd al-Fattah, Mafatih li Taa’mul ma’ al-Quran, m.s. 85, Jordan: Maktabah al-Manar).

Dan ini pula rujukan yang aku ambil dari buku yang aku sedang baca sekarang:

In contrast to this, the Christian revelation is based on numerous indirect human accounts. We do not in fact have an eye witness account from the life of Jesus, contrary to what many Christians imagine. (Maurice Bucaille. Introduction; The Bible, The Quran and Science, 2006, page iv).

Kita selalu katakan, Kristian sumbernya tidak dapat dipercayai etc, kalau kita pun tidak teliti, bukankah kita menempatkan diri kita ke tempat tang sama seperti mereka?

Ini pula dari tulisan Dr. Asri Zainul Abidin:

Islam adalah agama yang bina di atas hujah dan dalil. Sumber ajaran yang agung Islam adalah al-Quran dan al-Sunnah. Tiada Islam tanpa hujah dan dalil. Segala cakap kosong tanpa alasan tidak layak untuk dikaitkan dengan agama yang suci ini.

Islam adalah agama Allah yang Maha Mencipta Lagi Maha Mengetahui. Justeru itu, mustahil terdapat dalam ajaran Islam sesuatu yang menyanggahi fakta yang benar dan hakikat ilmiah. Apa sahaja pendapat yang menggunakan nama Islam, namun tidak berpaksi hujah dan dalil dari al-Quran atau al-Sunnah, maka ianya bukan ajaran Islam sekalipun yang memberikan pendapat itu menyangkut kan pada dirinya berbagai gelaran agama, atau memakai bermacam pakaian yang dikaitkan dengan agama. Demikian juga, apa sahaja pandangan yang dikaitkan dengan Islam jika terbukti secara realitinya bercanggah dengan hakikat alam atau fakta sains yang pasti, atau kemaslahatan hakiki insan secara nyata maka ianya juga bukan dari ajaran Islam sama sekali. (Mohd Asri ZA. Ikut Dalil dan Fakta, Buang Taklid Buta: Mengemudi Bahtera Perubahan Minda, 2008, hal.1)

Kesimpulan untuk bab ini, jom teliti dalam mencari sumber. Siapa tahu yang kita ambil adalah hadis palsu, cerita dongeng, atau israiliyat. Implikasi berat pada diri kita sendiri, mungkin ada yang teraniaya dan malah boleh menjatuhkan agama. Kita wajib membela islam, tapi dengan penuh rasa tanggungjawab dan disiplin yang tinggi. Ini semua orang pasti sepakat.

II. Kritikan mengenai Tanda – Tanda Ajal Semakin Dekat.

Seperti yang sudah kita bahas di atas, kita boleh lihat bahawa agama kita tidaklah terlalu men‘detail’kan/merincikan ajarannya. Merujuk kepada artikel saudara, dikatakan tanda 100, 40, 7, 3 hari dan tanda akhir. Are u really sure? As in the details, terlalu tepat harinya, selepas Asar pula? Kalau ada orang mendapatkan tanda 100 hari, tapi pada hari ke 99 atau hari ke 101 macam mana? Orang awam sekarang sangatlah kritis dalam berfikir. Kalau kita mengambil sembarangan semua yang kita dengar atau dapat, tanpa berfikir (melihat, mendengar dan mentafsir), kemudian mengaitkan pula dengan agama kita, susahlah para ulama’ kita hendak jawab jika penganut agama lain (termasuk yang tiada agama) bertanya atau pertikaikan kepercayaan kita tersebut. Tidak tahu mana lagi mereka hendak rujuk, sebab hal tersebut tidak ada dalam sumber-sumber agama yang mereka pegang.
Sekarang, jom kita lihat, dengar dan tafsir contain atau isi artikel tulisan saudara pula (Aku terima tulisan tersebut sebagai tulisan peribadi sebab tidak dimasukkan sumbernya). Untuk pengetahuan saudara, aku belajar medic lebih 5 tahun, tanda-tanda menjelang ajal atau tanda-tanda emergency sepatutnya aku tahu paling tidak sebahagian dari tanda-tanda yang saudara dikemukakan. Kalaulah dikatakan tanda kematian itu sebagai menggigil dari hujung rambut ke hujung jari kaki, hal tersebut dapat juga disebabkan dia demam atau kesejukan. Karakteristik demam menggigil, ditambah anemia (kurang darah), dan hepatomegaly (hati membesar), ditambah lagi kalau patient duduk di rumah berdekatan pantai, bahkan menjurus ke arah malaria fever. Aku teringat waktu belajar di sekolah dulu, pagi-pagi aku bangun sejuk, dan aku rasa menggigil hujung rambut ke hujung jari kaki. Bukan 100 hari, sudah beratus-ratus hari setelah kejadian itu dan sehingga kini alhamdulillah aku masih hidup, dan kelakarnya waktu menggigil tersebut aku tidaklah sakit apa-apa pun. Maaflah jauh menyimpang. Ringkasnya, menggigil bukan suatu tanda yang spesifik, terlalu banyak differential diagnosis hanya untuk orang menggigil.

Seterusnya, rujukan yang diambil oleh penulis artikel adalah Imam Ghazali rahimahullah. Aku yakin Imam Ghazali adalah ulama’ yang banyak kontribusi kepada umat Islam. Namun, (kalau benar dia yang menyatakan penelitian tentang tanda-tanda kematian), dalam sepengetahuan aku beliau bukanlah seorang doktor atau health researcher. Dalam konteks sign and symptom, orang awam belum tentu dapat bezakan. Sebagai perumpamaan untuk lebih mudah faham, ada seorang ulama’, bukan engineer, mengatakan yang dia berjaya mencipta sendiri sebuah kapal terbang, dan dia mendakwa pernah mengendali sendiri kapal terbang tersebut naik ke atas udara beberapa ribu kaki dari paras laut, walaupun cuma sekali (perumpamaan untuk meninggal yang hanya sekali juga), dan dia tidak dapat mengemukakan saksi lain, hanya dirinya sendiri yang tahu. Kemudian, dia mempelawa saudara untuk terbang sekali dengan dia. Mahu saudara ikut naik? Sudah tentu tidak. Mungkin saudara juga aware, hasil suatu penelitian itu bukanlah diteliti pada satu orang/subjek saja, dan biasanya mengambil masa bertahun-tahun dan melibatkan jumlah subjek yang banyak sehingga dapat menggambarkan suatu populasi itu sendiri. Kalau betul beliau dapat merasakan tanda-tanda itu tadi, sangatlah mungkin itu hanya sebuah kebetulan.

Kesimpulan untuk bab ini, untuk mengetahui patient itu emergency atau tidak, (atau berpotensi mati), secara teori hanya semudah ABC (airway, breathing and circulation). Detailnya mungkin kita dapat diskusikan lagi nanti.

III. Jadilah Ulul Albab

Izinkan sekali lagi aku memetik tulisan dari buku Dr. Asri Zainul Abidin:

Istilah Ulul Albab adalah istilah yang dipelopori oleh al-Quran al-Karim. Ia bukan cetusan idea mana-mana tokoh ulama, atau penceramah motivasi atau pemimpin politik.

Perkataan ‘ulul albab’ disebut dalam al-Quran sebanyak enam belas kali. Ahli-ahli tafsir hampir keseluruhan bersepakat bahawa perkataan Ulul Albab yang digunakan oleh al-Quran ini merujuk kepada golongan yang memiliki akal dan kefahaman yang matang sehingga mampu membuat penilaian yang tepat. Kemuncaknya mereka akan menemui hakikat kebenaran yang menyelamatkan kehidupan mereka di dunia dan akhirat.

“..oleh itu gembirakanlah hamba-hambaKu . (Iaitu) mereka yang berusaha mendengar perkataan (yang sampaikan) lalu mereka menurut yang terbaik; mereka itulah orang-orang yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah dan mereka itulah Ulul Albab” (Surah al-Zumar: ayat 17-18).

Maka tidak termasuk dalam golongan Ulul Albab mereka yang menelan apa sahaja berita yang didengar dan khabar yang disampaikan tanpa mampu membuat penilaian yang baik. Bukan dari golongan Ulul Albab masyarakat yang dipenuhi dengan berita palsu, khabar angin, fitnah mengfitnah dan segala keburukan yang lain. Juga bukan Ulul Albab masyarakat yang menelan apa sahaja khabar yang termuat dalam media dan internet tanpa mampu membuat penilaian yang betul.

Bahkan saya kata; tidak menjadi Ulul Albab mereka yang mendengar ceramah di masjid atau surau jika menelan semua yang diceramahkan itu tanpa menilai dengan nilaian yang betul dan matang. Bukan sedikit juga pandangan atau pendapat yang dibuat atas nama agama atau oleh orang yang bergelar agama tetapi tidak menepati agama.(Mohd Asri ZA, Ulul Albab dalam al – Quran, Mengemudi Bahtera Perubahan Minda, hlm. 370 – 372 (2008)).

Oleh yang demikian, dalam rangka menjadi golongan Ulul Albab, aku pun wajib bersikap adil terhadap saudara yang kukasihi ini. Mungkin saja artikel tanda ajal yang saudara post itu betul. Siapa tahu kan? Miracles are possible. Mungkin saja ada sumber hadisnya yang telah dipotong, yang menjadi sedikit aneh bila kita bukanlah pakar dalam menulis potongan-potongan hadis. Kalau betullah dapat dicari sumber yang boleh dipercayai (hadis-hadis terpotong tersebut), tinggal ditambahkan saja sumber rujukan dari mana hadis tersebut diambil untuk dimasukkan ke wall saudara.Buat masa ini, untuk kebaikan bersama saya sarankan delete dulu post tersebut.

IV. Ahli Sunnah dalam Mengkritik

Saudaraku yang dikasihi, semoga Allah mengampuni saudara dan diriku yang lemah ini. Aku khawatir teguran ini agak keras atau mungkin ada bahasa yang tidak tepat dek kerana kelemahan diri ini. Aku pernah membaca beberapa petikan kata-kata ulama’ ahli sunnah dalam mengkritik tulisan tokoh-tokoh yang lain. Salah-satunya yang memikat hati adalah:
Kata sarjana hadis dan sejarawan Islam yang agung, al-Imam al-Zahabi (meninggal 748H):

Aku katakan: “Al-Ghazali adalah imam yang besar, namun bukanlah menjadi syarat seorang ‘alim itu untuk dia tidak melakukan kesilapan” (Siyar Alam al-Nubala 19/339, Beirut : Muassasah al-Risalah).

Kemudian Al-Zahabi mengulas lagi:

“Adapun kitab al-Ihya’ padanya ada sejumlah hadis-hadis yang batil (tidak sahih). Sekiranya tidak ada padanya adab, cara dan zuhud yang diambil dari ahli falsafah dan golongan sufi yang menyeleweng, padanya ada kebaikan yang banyak. Kita memohon daripada Allah ilmu yang bermanfaat. Tahukah anda apa itu ilmu yang bermanfaat? Ianya apa yang dinyatakan al-Quran dan ditafsirkannya oleh Rasulullah secara perkataan dan perbuatan”. (Al-Zahabi, Siyar `Alam al-Nubala`, 19/339).

Cantik kan bahasa yang digunakan ulama’ dalam mengkritik. Sejujurnya, aku juga cuba untuk mengaplikasikan teknik-teknik mengkritik dengan bahasa yang jelas, mudah difahami dan tidak sampai membuat saudara berkecil hati pada tulisan ini. Dan aku juga menghabiskan banyak masa untuk permasalahan ini, tidak dapat keuntungan apapun secara material. Namun kalau ada kesalahan yang tidak kusedari, sebelumnya aku minta maaf sangat-sangat. I’ll be waiting for your feedback, kita boleh discuss lagi nanti, insyaAllah.

Berbeza bukanlah bererti menghina, anggaplah ini sebagai pembuka minda untuk berfikir. Apapun, at least it shows you how much I care.
Assalamualaikum and take care.

بسم الله الرحمن الرحيم
 
Masa yang paling idea dan tepat untuk saya mencari idea adalah semasa keluar berjogging seorang diri mengelilingi kampus. Suasana damai dan tenang. Kadang-kadang idea itu dilontarkan didalam article ataupun didalam kotak kecil Facebook.

Perkembangan terbaru, amat menarik untuk saya kongsi bersama pembaca. Provokasi minda yang saya lontarkan di Facebook, membuahkan satu realiti yang perlu cermati secara jujur dan telus.

Status provokasi saya adalah idea untuk menghantar kapal khas wanita ke Gaza, menghantar bantuan, adalah cantik jika muslimat-muslimat kita menyambutnya. Dari bergaduh muslimat bergaduh sesama sendiri bab jemaah, baik keluar ber’gaduh’ dan ber’gusti’ dengan Yahudi, musuh Allah dan Rasul yang maha nyata.

Manual Berjamaah: Kecil Tapi Besar, Mudah Tapi Sukar

Disebabkan status itu, article ‘Pengembala Doktrin dan Ternakan Madu‘ yang saya karang 6 bulan lepas, keluar kembali untuk dibaca dan diperhalusi pembaca. Dan satu khabar terbaru tergerak saya untuk membedahnya. Berikut adalah komen beliau:

Salam…

Akhirnya,baru terjumpa artikel sebegini(dari pemerhatian sayalah). Biar saya tumpu pada situasi di Bandung ni lah.

Saya sedih betul bila kawan baik saya bergaduh dengan saya sebab isu ni. Selepas kejadian berdebat tak habis-habis dalam isu ni,saya dah tak berani nak bercakap pasal isu ni dengan dia. Kawan saya ni masuk jemaah yang “satu” inilah. Masalah terjadi bila kami berbicara tentang hal agama, berlaku banyak kekeliruan daripada saya dan kawan saya itu. Lepas tu,mula berdebat dan bergaduh yang tak bersudah.

Apa yg saya terkilan,apabila berlaku kekeliruan pada kawan saya,saya dapat menerangkan dengan baik,tetapi apabila berlaku kekeliruan di pihak saya,dia tak mampu menjawab dan menerangkan. Sama sahaja jawapannya,

“Tak ada dalam modul yang kami belajar, ATAUPUN,belum sampai modul 2”

(padahal saya bertanya tentang isu-isu simple dalam modul terkininya)

“Tak tahu nak explain macam mane,ko kena ikut dari awal benda ni. Macam aku ni,dah faham”

(kalau macam tu ,maknanya,kawan saya tak faham apa yang dia belajar selama ni sebab dia tak tahu nak explain sebagaimana naqibahnya explain)

“Ko jangan tanya banyak-banyak. Aku pun tak tahu sangat.kalau tanya akak tu,tahulah”

(Bila saya nak belajar modul itu dari awal, dia refuse pulak, kata susah nak faham, ape ni~saya dah malas nak tanya dia banyak-banyak sebab dia pernah tuduh saya yang saya ni dah terpengaruh dengan jemaah yang di bandung sampai sengaja nak provoke dan kenakan dia.)

Takkanlah saya nak buat macam tu kat dia. Dia tahu yang saya sudah lama kawan dengan dia dari sekolah dulu sampai sekarang,kawan baik saya pulak tu. Saya tanya isu-isu tu sebab corcern dan mahu menyertai apa yang dia belajar. Alih-alih ini pulak jadinya.

-Masa permai diadakan,timbul juga isu jemaah ni seperti yang Abang Amad tulis,”Tak datang sebab takut nanti tak paham dan kitaorang pun dah ada aktiviti masa tu”

Takkanlah jemaah dia buat program masa permai (PERHIMPUNAN MAHASISWA ISLAM SE-INDONESIA). Inilah peluang student kat indonesia ni nak berjumpa dan berkenalan. lagipun,permai ni dah rancang bertahun-tahun sebelum tu,jadi, tak timbul soal tertindih program.

Nampak sangat jemaah sana mahu tertutup dan ekslusif (wah,jahatnya!yelah,siapa suruh buat macam tu,kan dah fikir bukan-bukan). Bila disentuh soal ini,mereka bilang,”sama macam method Nabi dulu,wat jemaah sikit-sikit secara tertutup supaya ade ‘core’ dia”

-Bagi saya(kalau salah,betulkan),itu masa zaman Nabi,sekarang tak sama sebab saya bukannya jahiliah yang nak tentang dan lawan dia,tapi yang nak faham dan belajar.

Bila suruh buka cawangan di bandung tak mahu dengan alasan orang bandung taknak terima,susah nak difahamkan(KE SUSAH NAK DOKTRIN?),dah ada jemaah sendiri,orang bandung sombong,tak cukup naqib,fokus J*****a dulu etc…aduhai,nampaknya,saya dah kerja,kahwin,dah ada anak baru saya dapat apa yang diorang nak sampaikan. Kan dah rugi zaman muda saya..huhu=P

Apa-apa pun,ni luahan hati saya,dan saya harap supaya abang amad dapat komen dan bagi tips macam mana nak berbaik semula dengan kawan baik saya ni. salam~

Jawapan:

Banyak saya amati, perkembangan yang berlaku dilingkungan pelajar-pelajar luar negara isu jemaah menjadi isu yang tidak berkesudahan. Mesir, Indonesia, Ireland, Australia, Rusia (sekadar menyebut beberapa tempat) cukup meninggalkan nanah dan luka mendalam antara aktivis dakwah.

Ya…kita bukan bergaduh dengan syaitan, yahudi dan nafsu. Kita bergaduh sesama sendiri! Sana muslim, sini muslim. Sana bawa dakwah, disini bawa dakwah. Hujung sana halaqah, hujung sini halaqah. Tetapi Islam yang kita percaya, Iman yang kita yakini, Dakwah yang kita pegang belum mampu menyatukan hati-hati kita.

Kerana apa? Teruskan membaca..

Pernah saya kongsi didalam beberapa article sebelum ini, Bandung ini mempunyai prospek dakwah yang cukup besar. Bilangan pelajar teramai Indonesia adalah di Bandung. Saya datang ke sini dengan satu expectation yang tinggi suasana Islam disini. Langit tidak selalu cerah, sangkaan itu meleset. Maka, dengan beberapa teman, ‘Islam’ disini diIslamkan kembali. Kami bukan terbaik tapi Kami cuba, kami berusaha.

IMAN sekarang, dahulu satu perempat dari ini

Walaupun sejarah dakwah di Bandung tidaklah tua dan lama seperti dibeberapa tempat, itu bukan kekurangan yang kami perlu tangisi dan ratapi. Bahkan dari satu sisi, ia kelebihan bagi kami untuk meletakkan satu batu asas yang kuat untuk generasi masa depan ikuti. Orang muda, kurang penyakitnya, kurang jua kudisnya. Kami bukan terbaik tapi kami cuba, kami berusaha.

Sejarah jatuh bangun, sepak terajang dakwah ditempat lain kami tadabburi dan kami insaf sesama kami. Banyak memakan korban, banyak memerah keringat, banyak meninggal luka. Dan keputusannya, selagi kami ada disini, kami tidak mahu dan tidak akan sesekali benar hal itu berulang. Kami bukan terbaik tapi kami cuba, kami berusaha.

Lama dan baru

Benar, ada beberapa hal yang berbeza antara kami. Tetapi amatlah tidak wajar dan tepat ditumpukan kepada perbezaan nan satu sedangkan kami ada berjuta persamaan yang kami boleh duduk bersama berkerja. Kami bukan terbaik tapi kami cuba, kami berusaha.

Ya, disini kami mempunyai latar belakang tarbiyah berbeza tapi kami mampu duduk halaqah bersama, makan talam bersama, beriadah bersama. Kerana Tuhan kami adalah Allah dan Nabi kami adalah Muhammad. Jemaah bukan Tuhan kami, kakak naqibah bukan Rasul kami. Kami bukan terbaik tapi kami cuba, kami berusaha.

Kebersamaan yang kami hayati dan kongsi, perbezaan yang kami ketepikan itulah membuatkan Islam dan dakwah di Bandung amat subur, murni untuk dibaja, segar untuk dipetik buahnya. Gerakan-gerakan dakwah di Malaysia datang, kami raikan kesemuanya. Tanpa memilih dengan syarat mereka bergerak dengan cara kami. Jika masuk pintu depan, satu penghormatan besar bagi kami. Tetapi jangan sekali-kali melalui pintu belakang, kerana insyAllah akan dihalau dengan batang penyapu. Ini harus dipertegaskan! Kami bukan terbaik tapi kami cuba, kami berusaha.

Kebersamaan yang kami hayati dan kongsi, perbezaan yang kami ketepikan itulah membuatkan Islam dan dakwah di Bandung amat subur, murni untuk dibaja, segar untuk dipetik buahnya. PERMAI contohnya, boleh dilaksanakan tanpa masalah. Sedangkan ditempat lain tidak mampu, bukan kerana pelajar disana sedikit, bukan juga disana tiada gerakan dakwah, bukan juga tiada halaqah dan tarbiah tetapi hati-hati mereka tidak bersatu. Kami bukan terbaik tapi kami cuba, kami berusaha.

PERMAI nan permai, mengumpulkan pelajar Malaysia diserata Indonesia. Duduk bersahabat, dan mencari persamaan. Sahabat sebenar-benar sahabat, persamaan sebenar-benar persamaan.

Jika semua itu kami dicop sebagai jemaah Bandung, sombong, ada jemaah sendiri, tidak ada naqib, monggo…

Jadi nasihat saya buat saudara/i:

1. Niat harus dimurnikan dengan sebenar-benarnya. Saya cukup jelak dengan kata “Wasilah sahaja berbeza, tapi matlamat sama.” Banyak dusta dari benar. Semua itu harus bahkan wajib dizahirkan secara jelas. Jangan didepan “kitakan sesama Islam, sama-sama buat kerja dakwah” tetapi dibelakang memegang belati untuk menyembelih. Hakikat!

2. Runtuhkan ego, dan ayuh mengakui dakwah dan tarbiyah kita bukanlah satu-satunya terbaik didunia. Ketika kita merasa kita baik bahkan kita merasakan kita paling baik berbanding yang lain, disitulah titik punca kemusnahan segala amalan.

3. Jangan dibawa luka dan nanah generasi terdahulu kedalam zaman dakwah kita. Alangkah malang jika masih ada jemaah yang mahu mewariskan luka dan nanah itu kepada generasi muda bahkan lagi malang ada generasi muda mahu mewarisinya. Doktrinisasi. Ketahuilah dengan cara tarbiah secara doktrinisasi tidak akan sekali-kali melahirkan pejuang berjiwa singa tetapi serigala berjiwa domba!

4. Ada satu hal menjadi masalah tetapi ramai yang ‘beriman’ dengannya lebih baik susah dari berubah’ . Berhenti sejenak, renung kembali apa yang sudah kita lakukan. Jika baik, teruskan melangkah kembali. Jika sebaliknya, amat besar dosanya apabila kita tetap meneruskannya. Ubah dan berubah.

5. Jangan melampau! Mereka murabbi diatas santai dan mesra minum kopi cicah biskut merry. Sedangkan dibawah, abang naqib dan kakak naqibah pula lebih kuah dari sudu, lebih tiub dari tayar, lebih stokin dari kasut duk bersilat. Sumbang dan pincang.

6. Ada segelintir yang mengatakan ‘Kita tumpu tarbiah dahulu, benda lain jangan’. Wahai saudaraku, anda silap. Dakwah ammah (umum) dan tarbiah khusus tiada yang perlu diawalkan dan juga tiada perlu dilambatkan. Keduanya harus serentak, dan disesuaikan dengan kapasiti masing-masing. Kita kena sedar, dakwah umumlah yang membekalkan kader untuk dicorak dan dibentuk menerusi tarbiah khusus.

7. Ayuh kita berTuhankan Allah s.w.t dan berRasulkan Muhammad s.a.w. Dan bukan bertuhankan jemaah dan berrasulkan kakak naqibah.

8. Kita tidak pernah kurang dari segi materi tarbiyah, tidak pernah kurang dari segi bilangan kali usrah, tapi sering menjadi halangan adalah persoalan sikap.

9. Jangan kerana pening memilih ‘baju’, kita berbogel. Demi Allah, saya berlepas dari dari hal itu.

“Eleh…bajet baguslah tu. Kami sudah ikut dakwah dah lama la, semua kitab haraki kami ratah, hadis mana yang kami tidak hafal. Tarbiah kami adalah tarbiah terbaik diabad ini. Jadi jangan memandai-mandai!”

Jika itulah kesimpulan anda akhirnya penulisan saya ini, saya mahu tinggal anda dengan satu ayat Al-Quran yang mungkin golongan sama bumbung dengan anda. Merasa lebih baik!

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. ( Al-A’raaf : 12)

Kami bukan terbaik tapi kami cuba, kami berusaha!

Bak kata Ustaz Hasrizal Abdul Jamil

“Ya akh…laskar pelangi harus berani bermimpi, dan bangkit mengejar mimpi!”

Nota 1 : Kepada saudara/i bersabarlah, kerana anda berurusan dengan subjek bernama manusia.

.: Amad ingatkan just in case kalian terlupa :.

Disalin dari: Hilal Asyraf
(Allahu yubarik fih, semoga Allah memberkatinya)

بسم الله الرحمن الرحيم

Iman sifatnya Yazid wa yanqus. Yazid berasal dari perkataan zada bermaksud tambah. Yanqus berasal dari perkataan Naqasa bermaksud berkurang. Iman itu sifatnya bertambah dan berkurang, naik dan turun.

Itulah dia resminya kita. Hamba Allah SWT.

Ada masa terjatuh juga. Ada masa tersungkur juga.

Dan bila jatuh dan tersungkur itu, jiwa akan sedih meronta-ronta.

“Kenapa begini? Kenapa begini?” Kita akan tertanya-tanya. Seakan-akan kita merasakan betapa amal kebaikan kita tidak bermakna. Amal, amal, amal kemudian berdosa semula. Buat baik, buat baik, buat baik, nanti tersungkur juga.

Akhirnya kita memilih untuk meninggalkan kebaikan. Katanya sudah tiada harapan.

Sebenarnya, kita tidak mengerti bahawa, di dalam kejatuhan iman itu sendiri, ada hikmah besar yang tersembunyi.

Orang-orang yang beriman bukan sempurna

Orang yang beriman itu tidak sempurna. Walaupun dia beriman kepada Allah SWT, tetap ada waktunya dia akan tersungkur jatuh melakukan kesilapan. Adakala kesilapannya besar, adakala kesilapannya kecil. Hatta orang-orang yang alim dan kelihatan seperti malaikat juga ada waktu-waktu kurangnya. Tinggal terzahir atau tidak sahaja.

Ini dibuktikan dengan kisah Abu Dzar RA dan Bilal bin Rabah RA. Apabila satu ketika, Abu Dzar RA memanggil Bilal: “Hoi Anak Hitam” dan kemudian Rasulullah SAW menegur: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya pada dirimu masih ada jahiliyyah”

Ya. Ada kalanya kita dah rasa stabil, rasa keimanan kita meninggi, ada kalanya kita akan terleka dan terlalai. Lantas alpa menolak kita ke gaung kesilapan.

Dan ketahuilah, kesilapan itu sendiri adalah satu ujian.

Dan di dalam ujian itu ada hikmah yang besar daripada Ar-Rahman.

Hikmah satu kejatuhan

Ada kata-kata hikmah berbunyi:

“Hanya si buta mengetahui nikmatnya melihat, hanya si mati mengetahui nikmatnya kehidupan”

Di sinilah tersembunyinya hikmah yang besar mengapa Allah SWT menjadikan keimanan manusia itu berbentuk naik dan turun.

Supaya manusia belajar menghargai keimanan mereka.

Manusia yang telah menyentuh kelazatan iman, apabila mereka tersasar dari landasan keimanan itu, mereka akan rasa kekosongan, rasa kekurangan. Di sinilah bagi yang jiwanya sensitif, akan bangkit segera memperbaiki diri. Dan apabila mereka bangkit, mereka akan bangkit dengan lebih tinggi dari sebelum kejatuhan mereka.

Allah mencipta kitaran Iman sedemikian rupa, agar yang terbaik mampu dihasilkan.

Sebab itu, bumi ini tidak diberikan kepada malaikat untuk mentadbirnya. Tetapi Allah berikan kepada manusia yang pasti akan melakukan kesilapan, tertarik-tarik antara kebaikan dan kefasadan untuk mentadbirnya.

Hal ini kerana, hanya yang pernah jatuh, mengetahui kepentingan berada di tempat yang tinggi. Justeru, manusia yang beriman apabila mereka jatuh, mereka akan rasa sebahagian besar kenikmatan hidup mereka tertarik keluar. Di sini, Allah menguji mereka, Allah menapis mereka.

Siapakah antara hamba Allah yang terbaik dalam melangkahi ujian ini?

Dan orang yang benar keimanannya akan bangkit. Bergerak. Memperbaiki diri dan meningkat lebih tinggi.

Hanya orang yang keimanannya palsu, akan terus tunduk dan berputus asa. Jatuh lebih ke bawah dari yang sebelumnya.

Lihatlah Mereka itu

Kembali kepada kisah Abu Dzar, apabila dia ditegur oleh Rasulullah SAW tadi, dia bingkas meletakkan wajahnya ke tanah. Menjerit meminta Bilal memijaknya. Hatinya gentar dengan keimanannya yang menurun. Lantas bergerak memperbaiki dirinya. Dan kita mengetahui bahawa Abu Dzar adalah antara sahabat termulia di sisi Rasulullah SAW.

Lihatlah pula kepada Ka’ab bin Malik, apabila beliau terleka hingga meninggalkan Peperangan Tabuk. Lantas dia sedar akan kesilapannya, tidak pula dia putus asa untuk menjadi baik apabila Rasulullah menghukumnya. Bahkan dia menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, hingga Allah menurunkan ayat Al-Quran secara terus mengampunkannya.

Lihatlah pula kepada Umar Al-Khattab, dia pada suatu hari membawa Taurat untuk dijadikan rujukan dan Rasulullah SAW marah kepadanya. Selepas itu lihatlah Umar bagaimana dia bergerak menjadi seorang yang sangat tegas atas Al-Quran dan Sunnah. Menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Lihatlah pula kepada Handzalah dan Abu Bakr RA, apabila mereka merasakan diri mereka telah terlalai dari mengingati Allah SWT, lantas mengumumkan bahawa diri mereka telah menjadi munafiq dan menangis-nangis kecewa. Ditegur oleh Rasulullah SAW bahawa perkara itu adalah biasa jika ianya tidak berpanjangan. Dan lihatlah kemudiannya di mana tempat mereka di dalam keimanan. Naik lebih tinggi dari sebelumnya.

Oh, apakah orang-orang yang jatuh itu tidak melihat, bahawa kejatuhan mereka itu hakikatnya adalah pengajaran halus daripada Allah SWT?

Penutup: Bila jatuh, jangan kecewa. Lekas naik semula jangan banyak bicara

Justeru, bila jatuh, bila melakukan kesilapan, bila melakukan dosa, jangan pula rasa tersangat kecewa hingga tiada harapan langsung untuk kita.

Lihatlah betapa hakikatnya, kejatuhan itu adalah untuk mengajar diri kita, mendidik jiwa kita, agar lebih menghargai keimanan kita, menghargai hubungan kita dengan Allah SWT.

Kejatuhan itu sendiri, adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya untuk memberikan peluang kepada mereka tertingkat dengan lebih tinggi lagi.

Maka jangan banyak bicara, jangan berduka terlalu lama, bangkitlah dengan mengambil pengajaran apabila jatuh itu.

Biar bangkit lebih tinggi dari kebangkitan sebelumnya.

Makna Menahan Pandangan

dakwatuna.com – Secara bahasa, غَضُّ البَصَرِ (gadh-dhul bashar) bererti menahan, mengurangi atau menundukkan pandangan [1]. Menahan pandangan bukan bermaksud menutup atau memejamkan mata hingga tidak dapat melihat sama sekali atau menundukkan kepala ke tanah saja, kerana bukan ini yang dimaksudkan, di samping ia tidak mampu dilaksanakan. Tetapi yang dimaksud adalah menjaganya dan tidak membiarkannya menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang terpandang sesuatu yang haram (aurat oranag lain) lalu ia tidak mengamati kecantikan yang dipandangnya dan tidak berlama-lama [2]. Dengan kata lain menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah swt dan rasul-Nya untuk kita memandangnya [3].

Dalil Kewajiban Menahan Pandangan

1. Al-Quran:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada kaum lelaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan”. Katakanlah kepada kaum wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (Surah An-Nur [24]: 30-31)

Para ulama tafsir menyebutkan bahawa kata min dalam ‘min absharihim’ maknanya adalah sebagian, untuk menegaskan bahawa yang diharamkan oleh Allah swt hanyalah pandangan yang dapat dikontrol atau disengaja, sedangkan pandangan tiba-tiba tanpa sengaja dimaafkan. Atau untuk menegaskan bahawa kebanyakan pandangan itu halal, yang diharamkan hanya sedikit saja. Berbeda dengan perintah memelihara kemaluan yang tidak menggunakan kata min karena semua pintu pemuasan seksual dengan kemaluan adalah haram kecuali yang diizinkan oleh syariat saja (yaitu nikah).[4]

Larangan menahan pandangan didahulukan dari menjaga kemaluan kerana pandangan yang haram adalah awal dari terjadinya perbuatan zina.

2. Hadits Rasulullah saw:

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي (رواه مسلم).

Dari Jarir bin Abdillah ra berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang pandangan tiba-tiba (tanpa sengaja), lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkannya.” (HR Muslim).

Maksudnya jangan meneruskan pandanganmu, kerana pandangan tiba-tiba tanpa sengaja itu dimaafkan, tapi bila diteruskan bererti sengaja.

((لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ تَنْظُرُ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ، وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ)). (رواه مسلم وأحمد وأبو داود والترمذي).

“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain, dan seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain. Seorang lelaki tidak boleh bersatu (bercampur) dengan lelaki lain dalam satu pakaian, dan seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan perempuan lain dalam satu pakaian.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud & Tirmidzi).

((يَا عَلِيُّ، لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ؟ فَإِنَّ لَكَ الأُوْلَى، وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ)) [رواه الترمذي وأبو داود وحسنه الألباني].

“Wahai Ali, jangan kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, kerana yang pertama itu boleh (dimaafkan) sedangkan yang berikutnya tidak.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud dan dinilai hasan oleh Albani).

((الْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ، وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ)) [متفق عليه].

“Dua mata itu berzina, dan zinanya adalah memandang.” (Muttafaq ‘alaih).

Akibat Negatif Memandang yang Haram

1. Rosaknya hati.

Pandangan yang haram dapat mematikan hati seperti anak panah mematikan seseorang atau minimal melukainya. Seorang penyair berkata:

لِقَلْبِكَ يَوْمًا أَتْعَبَتْكَ الْمَنَاظِرُ وَكُنْتَ إِذَا أَرْسَلْتَ طَرْفَكَ رَائِدًا
عَلَيْهِ وَلاَ عَنْ بَعْضِهِ أَنْتَ صَابِرُ رَأَيْتَ الَّذِي لاَ كُلَّهُ أَنْتَ قَادِرٌ

Kau ingin puaskan hatimu dengan mengumbar pandanganmu

Suatu saat pandangan itu pasti kan menyusahkanmu.

Engkau tak kan tahan melihat semuanya,

Bahkan terhadap sebagiannya pun kesabaranmu tak berdaya.

Atau seperti percikan api yang membakar daun atau ranting kering lalu membesar dan membakar semuanya:

وَمُعْظَمُ النَّارِ مِنْ مُسْتَصْغَرِ الشَّرَرِ كُلُّ الحَوَادِثِ مَبْدَؤُهَا النَّظَرُ

Segala peristiwa bermula dari pandangan,

dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang kecil.

2. Terancam jatuh kepada zina.

Ibnul Qayyim berkata bahawa pandangan mata yang haram akan mewujudkan lintasan fikiran, lintasan fikiran melahirkan idea, sedangkan idea memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu membesar hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan (zina). Penyair berkata:

فَكَلاَمٌ فَمَوْعِدٌ فَلِقَاءُ نَظْرَةٌ فَابْتِسَامَةٌ فَسَلاَمٌ

Bermula dari pandangan, senyuman, lalu salam,..

Lantas bercakap-cakap, membuat janji, akhirnya bertemu.

3. Lupa ilmu.

4. Turunnya bala’

Amr bin Murrah berkata: “Aku pernah memandang seorang perempuan yang membuatku terpesona, kemudian mataku menjadi buta. Ku harap itu menjadi kafarah penghapus dosaku.”

5. Merusak sebagian amal.

Hudzaifah ra berkata: “Barangsiapa membayangkan bentuk tubuh perempuan di balik bajunya bererti ia telah membatalkan puasanya.”

6. Menambah lalai terhadap Allah swt dan hari akhirat.

7. Rendahnya mata yang memandang yang haram dalam pandangan syariat Islam.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: ((لَوِ اطَّلَعَ أَحَدٌ فِي بَيْتِكَ وَلَمْ تَأْذَنْ لَهُ، فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ، مَا كَانَ عَلَيْكَ جُنَاحٌ)) (متفق عليه).

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Jika seseorang mengintai ke dalam rumahmu tanpa izinmu, lalu kau baling dengan kerikil hingga buta matanya, tak ada dosa bagimu kerananya.” (Muttafaq ‘alaih).

Manfaat Menahan Pandangan

Di antara manfaat menahan pandangan adalah:

1. Membebaskan hati dari pedihnya penyesalan, kerana barangsiapa yang tidak menahan pandangannya maka penyesalannya akan berlangsung lama.

2. Hati yang bercahaya dan terpancar pada tubuh terutama mata dan wajah, begitu pula sebaliknya jika seseorang merosakkan pandangannya.

3. Terbukanya pintu ilmu dan faktor-faktor untuk menguasainya kerana hati yang bercahaya dan penuh konsentrasi. Imam Syafi’i berkata:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ العِـلْمَ نُـوْرٌ وَنُوْرُ اللهِ لاَ يُهْـدَي لِعَاصِي

Kuadukan kepada Waki’, guruku, tentang buruknya hafalan

Arahannya: “Tinggalkanlah maksiat.”

Diberitahukannya bahawa ilmu itu cahaya,

Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.

4. Mempertajam firasat dan prediksi

Syuja’ Al-Karmani berkata:

مَنْ عَمَرَ ظَاهِرَهُ بِاتِّبَاعِ السُّنَّةِ، وَبَاطِنَهُ بِدَوَامِ الْمُرَاقَبَةِ، وَغَضَّ بَصَرَهُ عَنِ الْمَحَارِمِ، وَكَفَّ نَفْسَهُ عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَأَكَلَ مِنَ الْحَلاَلِ- لَمْ تُخْطِئْ فِرَاسَتُهُ.

“Siapa yang menyuburkan lahiriahnya dengan mengikuti sunnah, menghiasi batinnya dengan muraqabah (mendekatkan diri kepada Allah), menundukkan pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari syahwat, dan memakan yang halal maka firasatnya tidak akan salah.”

5. Menjadi salah satu penyebab datangnya mahabbatullah (cinta Allah swt).

Al-Hasan bin Mujahid berkata:

غَضُّ البَصَرِ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ يُوْرِثُ حُبَّ اللهِ.

“Menahan pandangan dari apa yang diharamkan Allah swt akan mewarisi cinta Allah.”

Faktor-faktor Penyebab Mampu Menahan Pandangan

Di antara faktor yang membuat seseorang mampu menahan pandangannya adalah:

– Hadirnya pengawasan Allah dan rasa takut akan siksa-Nya di dalam hati.

– Menjauhkan diri dari semua penyebab rosaknya pandangan seperti yang telah disebutkan.

– Meyakini semua bahaya pandangan yang haram.

– Meyakini manfaat menahan pandangan.

– Melaksanakan pesan Rasulullah saw untuk segera memalingkan pandangan ketika melihat yang haram.

– Memperbanyak puasa.

– Menyalurkan keinginan melalui jalan yang halal (nikah).

– Bergaul dengan orang-orang shalih dan menjauhkan diri dari persahabatan akrab dengan orang-orang yang rosak akhlaknya.

– Selalu merasa takut dengan su’ul khatimah ketika meninggal dunia.
___
Catatan Kaki:
[1] Berasal dari kata غَضَّ yang berarti كَفَّ (menahan) atau نَقَصَ (mengurangi) atau خَفَضَ (menundukkan). Lihat: Tajul ‘Arus 1/4685, dan Maqayisul Lughah 4/306.
[2] Yusuf Al-Qaradhawi, Halal & Haram, hlm 171.
[3] Tafsir At-Thabari 19/154, Ibnu Katsir 6/41.
[4] Al-Jami’ Li Ahkamil Quran, Al-Qurthubi, 1/3918.

Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan masa, yang di dalamnya ada orang yang merugi dan ada yang beruntung. Dan betapa relatifnya dunia yang hakikatnya berada di bawah kekuasaanNya, bila-bila saja dia mampu menenggelamkan beberapa kampung dengan bergeraknya tanah yang selama ini kita pijak, dan bila-bila jua Dia berhak menentukan saat berakhirnya nadi kehidupan dalam sekujur tubuh yang asalnya dari tanah, untuk kembali semula kepada tanah.

Nadi, hanya menghasilkan denyut apabila unsur air dalam tubuh itu bergerak. Dan barulah manusia, yang secara saintifiknya lebih 70% terdiri dari air itu dapat dikatakan hidup. Dia, yang saya nukilkan sebagai tajuk tulisan hari ini adalah saya, dan benarlah dia masih hidup. Alhamdulillah. Hari ini sudah lebih 23 tahun dia menghirup udara di Bumi Allah tanpa biaya sedikitpun. Benarlah, nikmat yang paling berharga biasanya kita dapatkan secara cuma-cuma, tidak berbayar, gratis! Udara, air, masa lapang, kesihatan adalah antara hal esensial yang kita peroleh semenjak pertama kali kita lahir ke dunia, pasrah tanpa kita minta dan tanpa bekalan apa-apa.

Dia masih hidup, bukanlah sekadar pernyataan malah juga suatu penegasan. Dan ia timbul dengan risiko, bahawa dia juga akan mati. Tulisan ini mungkin anda baca pada saat dia masih hidup, dan dengan izin Allah suatu hari nanti anda akan membacanya pada saat dia telah tiada. Saya terkenang ucapan emak pada ulangtahun hari lahir saya kali ini, antaranya beliau berdoa semoga saya panjang umur dan bertemu seorang isteri yang solehah. Saya membalas, mengharapkan juga usia emak dipanjangkan. Beliau malah menambah, semoga sempat melihat cucu cicitnya membesar kelak. Tidurlah, dah lewat ni, saya cuba berbisik menyembunyikan sebak. Saya sedar, tulisan ini dan mungkin keseluruhan hidup saya selalu saja berkaitan dengan diri saya. Padahal sang pelajar ini lahir ke dunia tanpa apa-apa, malah mengharapkan bantuan orang yang mengasihaninya untuk tetap berdiri di dunia nyata. Jadi mustahil kehidupannya hanya berkisar soal dia.

Tulisan kali ini hadir dengan suatu azam yang teguh agar dia terus bergerak, menghidupkan dirinya bersama mereka yang mengasihaninya, selama mana nyawa masih dikandung badan. Dan akhirnya, dia mengajak kita bersama merefleksikan ayat dari Sang Pencipta, buat tatapan Kaca Mata Sang Pelajar. Syukurlah, sang pelajar telah kembali, dan dia masih hidup.

“Wahai manusia! Jika kamu meragukan hari kebangkitan, maka sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadinnya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; Dan Kami tetapkan dalam rahim menuru kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian sampai kepada usia dewasa dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan di antara kamu ada yang dikembalikan sampai usia sangat tua, sehingga dia tak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya…”
(Surah al-Hajj, 22: 5)

بسم الله الرحمن الرحيم
Hari ini saya menukar tema blog ini, yang dahulunya saya ringkaskan dari Firman Allah dalam surah Hud, ayat 88 (maksudnya):

“Dia (Syu’aib) berkata, Wahai kaumku! Terangkan padaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan aku dianugerahi-Nya rezeki yang banyak, (layakkah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan/islah selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya Allah. Kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali


Sepertinya maksud saya menulis blog selama ini tidak tercapai, setelah sekian lama saya berada di dunia blog ini. Apakah islah/perbaikan yang telah saya bawa kepada masyarakat, bahkan kepada diri sendiri melalui penulisan-penulisan ini mungkin masih tiada dan dapat dipersoalkan.

Mengenai perihal islah/perbaikan yang saya bawakan dalam tema sebelum ini, yang mana saya kekalkan maksud tema ini, marilah kita sama-sama menilai gerak kerja tersebut berdasarkan neraca utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala (S.W.T). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam (s.a.w) bersabda (maksudnya):

“Islam awalnya asing, dan kelak akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah bagi al-Ghurabaa'(orang-orang yang asing)” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

Sedangkan makna al-Ghurabaa’ adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash r.a. ketika suatu hari Rasulullah menerangkan makna dari al-Ghurabaa’, beliau s.a.w. bersabda:

“(yaitu) Orang-orang shalih (yang melakukan islah/perbaikan) yang berada di tengah banyaknya orang yang rosak, orang yang menentang mereka lebih banyak daripada yang mentaati mereka” (H.R Ahmad, disahihkan Syaikh Ahmad Syakir)

Dalam riwayat lain disebutkan:

“yaitu orang-orang yang memperbaiki sunnahku sepeninggalanku, sesudah dirosakkan oleh manusia” (HR. at-Tirmidzi, beliau berkata:”hadis ini hasan shahih”. Dari ‘Amr bin ‘Auf r.a.)

Salafussoleh: Contoh Teladan

Justeru hari ini saya cuba memperkenalkan tema baru untuk blog saya, dengan mengambil semangat dari guru al-Imam as-Syafi’i rah., yaitu al-Imam Malik yang berkata tentang al-islah/perbaikan ini:

لن يصلح أمر هذه الأمّة الا بما صلح به أوّله

“Tidak akan menjadi baik urusan ummah ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi pertama (salaf) ummah ini”

Salafussoleh adalah contoh teladan yang wajib diikuti. Terdapat banyak bukti-bukti betapa suatu masyarakat yang jahiliah dapat diubah dengan mengikuti cara/manhaj mereka, terutamanya dalam berdakwah mengubah, melakukan islah kepada manusia dengan kebenaran Islam. Namun tidak dapat dinafikan akan tetap wujud kerosakan terhadap usaha-usaha dakwah ini sendiri, sebagaimana sunnah Nabi juga telah dirosakkan mereka dan diamalkan secara salah bahkan diajak manusia kepadanya. Inilah tugas para pendakwah dalam melakukan perbaikan terhadap ummah ini. Allah S.W.T. telah mengajar kita manhaj dakwah ini dalam al-Qur’an pada banyak ayat, antaranya surah al-Jumu’ah ayat 2:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang (1)membacakan (menerangkan) ayat-ayat-Nya kepada mereka, (2)mensucikan mereka dan (3)mengajarkan mereka kitab dan hikmah (as-sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (zaman jahiliyyah)”

Dan sebaik-baik manusia, kata Rasulullah (muttafaqun ‘alaih), adalah pada masaku (yaitu masa para Sahabat radhiallahu ‘anhum-r.a.h.-) kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya. Inilah definisi golongan salaf/ikutan yang wajib dicontohi oleh setiap Muslim, terutamanya para pendakwah. Para Sahabat telah beriman dengan penuh keyakinan ketika turunnya wahyu, dimana ketika itu tiada orang yang beriman kecuali para Sahabat r.a.h.

“Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu (para Sahabat) beriman, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu). Maka Allah mencukupkan engkau(Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (surah al-Baqarah,2:137)

Melalui ayat ini Allah menjadikan iman para Sahabat Nabi s.a.w. sebagai parameter untuk membezakan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebatilan. Apabila Ahlul Kitab (Yahudi, Nasrani dan lainnya) beriman sebagaimana berimannya para Sahabat Nabi s.a.w., maka sungguh mereka mendapatkan hidayah yang mutlak dan sempurna. Jika mereka berpaling maka mereka jatuh dalam perpecahan, perselisihan dan kesesatan yang sangat jauh. Dan benarlah fenomena bahawa ummah ini akan menuruti jejak langkah Yahudi dan Nasrani dalam banyak hal, hinggalah hal beragama.

Dalam hadis sahih riwayat al-Hakim, al-Baghawi dan lainnya, diriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. pernah berpesan kepada Sahabatnya dengan membuat garis di tanah/pasir dengan tangannya. ‘Inilah jalan yang lurus’, sabdanya. Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai, tiada satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di atasnya ada syaitan yang menyeru kepadanya’. Kemudian beliau menyebut firman Allah dalam surah al-An’am, ayat 153:

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa”

Dan dalam hadis lain disebutkan lagi tentang perselisihan ini, dan beliau menyebutkan dengan jelas solusinya. Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Aku berwasiat kepada kalian agar selalu bertakwa kepada Allah, selalu mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang hamba dari Habsyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalanku, nescaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), kerana setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, al-Hakim. Dishahihkan oleh Imam az-Dzahabi)

Dalam hadis ini Rasulullah menggabungkan Sunnah Khulafa-ur Rasyidin, yaitu pemahaman Salaf, dengan Sunnah beliau. Sebutan ‘Peganglah ia (تمسّكوا بها) dan gigitlah ia (غضّوا عليها)’ merujuk kepada Sunnah tersebut yang difahami sebagai satu kalimah, menunjukkan tiada perselisihan antara manhaj para salaf dengan Sunnah Nabi s.a.w. Inilah solusi bagi mereka yang berfikir, tentang perselisihan yang banyak di akhir zaman ini. Kembali kepada Allah dan Rasul, slogan yang dilaungkan hendaklah atas bukti yang nyata dan manhaj yang jelas, bukan sekadar sorakan. Ulama’ pewaris Nabi, tiadalah yang mereka warisi kecuali Allah dan Rasul-Nya. Yaitu ilmu yang didasarkan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.

Marilah kita sebarkan budaya berilmu di dalam ummah ini, lebih-lebih lagi dalam hal beragama. Mungkin banyak kalimah dan perenggan yang kalian tidak fahami dari entri kali ini, justeru itu diperlukan proses ‘تكوين الشخصية‘, pembinaan tarbiyah dan tashfiah yang tidak pernah tidak, harus bermula dengan penekanan aqidah. Jom meriahkan lagi majlis-majlis ilmu sekitar Jakarta, halaqah dan usrah yang berpasakkan kepada Sunnah Rasulullah s.a.w.

والله أعلم. والحمد لله ربّ العالمين